Pasti Halal Dot Com

Mengunjungi Tempat-Tempat Bersejarah di Sekitar Madinah

Saat masih di Madinah, jangan lewatkan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sekitar Madinah, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kota. Sebagian malah sangat dekat dan hanya berjarak beberapa ratus meter sampai satu kilometer. Yang lain, meskipun tidak terlalu jauh, memerlukan kendaraan untuk sampai ke sana. Tempat-tempat ini merupakan tempat-tempat yang penting. Sebagian besar tentu sudah pernah sahabat muslim ketahui saat membaca atau belajar siroh atau tarekh. Untuk diingat, ini adalah bagian kedua dari Umroh Yuk! Ternyata mengasyikkan lho!

Terus, bagaimana bisa samapi ke sana? Kan kami gak tahu bahasa Arab, jadi gak bisa tanya-tanya….Jangan khawatir! Biro perjalanan sahabat muslim biasanya sudah memasukkan agenda kunjungan ini dalam paketnya. Jadi, sahabat akan diantar dan dijelaskan kembali sejarah tempat itu. Biro perjalanan yang baik tentu akan melayani keinginan tahu sahabat soal tempat yang dikunjungi itu dengan sejarahnya.

Waktu berkunjung biasanya antara habis sholat dhuha (awal) hingga sebelum dzuhur. Akan diatur agar dzuhur sahabat sudah bisa kembali mengikuti sholat jamaah dzuhur di Masjid Nabawi. Rugi sekali jika sampai terlambat mengikuti jamaah sholat lima waktu di Nabawi, padahal waktu yang kita miliki di Madinah sangat terbatas.

Pertama, kita akan jalan kaki dari Masjid Nabawi ke arah barat daya, ke Saqifah Bani Sa’idah. Lokasinya hanya berjarak dekat sekali di luar dinding masjid Nabawi. Tempat apakah itu? Saqifah Bani Sa’idah (bahasa Arab: سقيفة بني ساعدة) atau as-Saqifah (bahasa Arab: السقيفة) adalah sebuah bangunan beratap yang digunakan oleh kabilah Bani Sa’idah, suku Khazraj, salah satu kabilah yang berasal dari Madinah, Hijaz, barat daya Jazirah Arab.

Tempat ini merupakan tempat Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah. Sesaat setelah Rosululloh wafat, terjadi keributan di antara kaum anshor dan muhajirin menyangkut kepemimpinan pasca Nabi SAW wafat. Umar Ibn Khotob akhirnya memimpin umat untuk membaiat Abu Bakar Ashidiq sebagai khalifah pertama.

Saqifah Bani Sa’idah awalnya, dulu, digunakan di antaranya untuk pemukiman dan perkebunan milik kabilah Bani Sa’idah. Dulu saqifah ini sangat luas,  dikarenakan saqifah berfungsi sebagai tempat berkumpulnya kaum Anshar.

Saat ini, saqifah menjadi sebuah taman yang berada di sebelah barat dinding Masjid Nabawi. Ada sebuah bangunan tidak terlalu besar, dan di depannya terdapat halaman lumayan luas yang berfungsi sebagai taman.

Makam Baqi

Hasil gambar untuk makam baqi

Masih jalan kaki saja, selanjutnya kita akan ke makam Baqi.  Baqi adalah sebuah makam yang sudah ada dan menjadi makam sejak zaman  jahiliyah hingga sekarang. Jamaah haji yang meninggal di Madinah juga dimakamkan di Baqi, letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi, hanya dengan menyeberagi halaman masjid kita sudah sampai.  Di sinilah makam Ustman bin Affan ra, para istri Nabi, putra dan putrinya, dan para sahabat dimakamkan. Saya sendiri tiodak ikut masuk ke makam ini saat di Madinah. Tidak banyak yang bisa diceritakan.

Sampai dzuhur, biasanya masih bisa mengunjungi beberapa tempat yang lain. Di antaranya adalah Pasar kurma. Sebetulnya ini hanyalah sekompolam kios yang menjajakan segala macam oleh-oleh kota Madinah. Mulai dari semua jenis coklat, kacang-kacangan, dan kurma tentunya. Sebelum membeli, berkelilinglah sepuasnya, tanya-tanya harga atau apapun. Pelayan di sini biasanya ngertio bahasa Indonesia meski sangat terbatas.

Makanlah kurma atau apapun yang ditawarkan untuk mencicipi. Insya Allah halal. Ini kebiasaan pedagang madinah yang mempersilakan kita mencicipi apapun di situ. Cobalah makan beberapa jenis kurma, bandingkan citarasanya. Tanyakan filosofinya…Kalau sudah mantap, belilah apa yang sahabat inginkan. Biasa saja, gak usah terlalu banyak.
Selesai di sini sebaiknya mencari angkutan umum untuk jkembali ke Masjid Nabawi atau ke hotel dulu, tergantung waktu yang tersedia. Bersegeralah agar tidak ketinggalan takbirotul ihrom imam saat jamaah dzuhur.

Pada hari berikutnya berkunjunglah ke tempat-tempat bersejarah yang agak jauh dari Madinah. Bersyukulah jika itu sudah termasuk paket perjalanan umroh sahabat. Dari mana dulu? Baik, Masjid quba dulu yaa…Jika urutannya beda harap maklum, sopirnya bukan saya.

Masjid Quba

Hasil gambar untuk i masjid quba
Ketika berangkat ke Masjid Quba, disunahkan untuk berwudlu dari rumah (hotel). Sampai di sana, masuklah dari pintu yang ditunjukkan pemandu. Ada pintu sendiri-sendiri antara jamaah laki-laki dan jamaah perempuan.  Sholatlah 2 rakaat karena sholat 2 rakaat di masjid quba pahalanya sama dengan pahala umroh. “Barang siapa telah bersuci (berwudlu) di rumaahnya. kemudian mendatangi masjid Quba, lalu shalat di dalamnya dua rakaat, baginya sama dengan pahala umrah.”(Sunan Ibn Majah no. 1412).

Masjid Quba adalah Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Masjid Quba adalah Masjid yang dibangun atas dasar takwa.  “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasat taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang  paling bersih.

Masjid Qiblatain

Hasil gambar untuk masjid qiblatain
Masjid Qiblatain atau Masjid dua kiblat adalah salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena Masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah.
Pada permulaan Islam, orang melakukan Shalat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa Palestina). Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah hari senin bulan rajab waktu Dzuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah shalat dengan menghadap ke arah  Masjidil Aqsa.
Di tengah shalat, tiba-tiba turun wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 : “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Baqarah : 144).

Masjid qiblatain adalah bagian penting sejarah Islam. Tapi tak ada sunah khusus di masjid ini.

Khandaq

Hasil gambar untuk khandaq
Perjalanan selanjutnya adalah ke  kaki bukit Sala, sekitar 3 km sebelah barat laut Masjid Nabawi.  Di sini ada Masjid Khamsah. Sejarah Masjid Khamsah ini berawal dari perang Ahzab. Pasukan  muslimin sebanyak 3000 orang harus berhadapan dengan pasukan koalisi yang terdiri dari 4000 pasukan kafir Quraisy dan pasukan Yahudi dari Bani Quraidhah dan lain-lain sebanyak 6000 orang, sehingga pasukan gabungan itu berjumlah 10.000 orang. Untuk menghadapi pasukan Ahzab ini, Salman al Farisi memberikan masukan cemerlang dengan cara membuat parit (Khandaq) sepanjang kurang lebih 2,5 km, kedalaman kurang lebih 3,5 meter, dan lebar kurang lebih 4,5 meter. Kaum muslimin bertahan di belakang parit itu, sehingga pasukan lawan mendapat kesulitan untuk menyerang secara langsung.

Di Khandaq perasaan kita dibawa ke belakang, 14 abad lalu. Betapa hebatnya mental pasukan muslim di bawah pimpinan Muhamad SAW. Meski hanya 3000 orang, tak gentar melawan pasukan lawan yang 10.000 itu. Betapa beratnya dikepung musuh yang kuat. Bersyukur bahwa Allah memberikan sahabat cerdas kepada Nabi SAW, Syalman Al Farizi. Pasukan muslim pun mendapatkan kemenangan gemilang.

Jabal Uhud

Hasil gambar untuk jabal uhud

Berikutnya, mari perjalanan kita arahkan ke bukit Uhud. Masih ingat cerita di balik tempat ini? Yaa…ini merupakan salah satu lokasi perang besar yang dipimpin langsung oleh Rosululloh SAW. Perjalanan dari Madinah sebetulnya hanya berjarak  5 kilometer arah utara Masjid Nabawi tepatnya di antara Gunung Uhud dan Bukit Rumat. Hati saya mulai bergetar. Tempat yang akan kita kunjungi ini adalah tempat di mana pasukan islam hampir saja hancur dihabisi musuh. Perang inilah yang mengajari kita untuk taat kepada pemimpin sampai kapanpun, selama pemimpin itu benar.

Kekalahan itu terjadi karena sejumlah pasukan panah yang ditugaskan tetap di atas bukit Uhud  apapun yang terjadi, melanggar perintah, dengan berlarian ke bawah untuk ikut berebut pampasan perang. Kanyataannya, pasukan kafir belum kalah. Mereka sengaja berpura-pura kalah, meninggalkan gelanggang perang. Setelah pasukan  panah turun dari bukit, pasukan kafir kembali dan merebut posisi yang sangat bagus itu di atas bukit. Dan….
Sejarah mencatat, banyak sahabat utama Nabi yang syahid di sini.  70 orang  sahabat Nabi g gugur pada pertempuran ini. Antara lain, Hamzah bin Abdul Muthalib (Paman Nabi), Mush’ab bin ‘Umair, Hanzholah bin Abi ‘Amir, Amru bin al-Jamuh, dan Abdullah bin Amr bin Haram. Oleh karena itu, Gunung ini mendapatkan tempat yang istimewa salam sejarah perjuangan islam.  Uhud ada di hati setiap muslim. Hadits nabi: Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya, Bukit yang mencintai kita dan kita mencintainya. Begitu Nabi bersabda soal Jabal Uhud, bukit kemerahan yang menjadi saksi gugurnya para syuhada di Madinah.

Sekrang, Uhud dan sekitar menjadi salah satu tujuan kunjungan muslimin yang sedang di Madinah. Bukitnya masih utuh berdiri tegak, di bawah agak ke kiri ada makam para syuhada Uhud. Merenung, membayangkan sebagai bagian dari perang itu, di lokasi di mana perang Uhud terjadi, rasanya dada ini dipenuhi kerinduan yang amat sangat kepada Rosululloh SAW. Semoga kita dipertemukan beliau di surga kelak…

Gumung Rayah
Gunung Ar-Rayah (bahasa Arab: جبل الراية) atau Gunung Dzubab adalah salah satu gunung yang terletak di Madinah. Gunung ini terletak 1400 meter barat laut Masjid Nabawi, di awal Jalan Utsman bin Affan (Jalan al-‘Uyun) di sisi kiri. Rasulullah SAW membuat kemah di atasnya ketika mengawasi penggalian parit di Khandaq. Mukjizat Nabi pernah terjadi di sebelah utara gunung ini, yaitu mukjizat memecahkan batu ketika penggalian parit di Khandaq.

Ketika Nabi memukul batu dengan cangkul, maka keluarlah darinya kilatan cahaya yang menerangi hingga kedua labah (batas barat dan timur) Madinah. Kemudian Jibril memberitakan kabar gembira bahwa umatnya kelak akan dapat mengalahkan kekaisaran Kisra, Roma dan Sun’a’.
Demikianlah, kaum muslimin pun percaya dan meyakininya, sedangkan orang-orang munafik mengingkarinnya. Maka turun ayat  “Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya (QS Al-Ahzab ayat 12) juga ayat Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki (QS :Ali Imran ayat 26)

Capai? Tentu. Tapi pasti tertutupi oleh kepuasan batin yang luar biasa. Kita telah berkunjung ke tempat-tempat penting di sekitar Madinah. Belum semuanya tentu. Insya Allah kita tidak hanya sekali diizinkan Allah menginjak tanah mulia itu.
Aba Hanif

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories