Pasti Halal Dot Com

Apakah Semua Yang Tidak bersertifikat Halal MUI Haram?

Apakah Semua Yang Tidak bersertifikat Halal MUI Haram? Marilah kita kaji bersama soal penting ini, sehingga kita mendapatkan pemahaman yang tepat.

Sekali-kali masuklah ke pasar tradisional. Atau bahkan, seringlah masuk pasar tradisional, kertimbang membikin kaya kapitalis pemilik mall, mendingan belanja di saudara-saudara kita pedagang pasar. Lalu perhatikan, berapa persen produk bersertifikat halal. Anda pasti hanya akan ketemu simbol halal MUI di kemasan produk pabrikan! Pada dagangan ibu-ibu dan bapak-bapak seperti tempe, tahu, daging sapi, daging ayam, atau bakso tidak ada yang bersertifikat halal. Apakah dengan demikian bahan makanan itu menjadi syubhat atau bahkan haram? Nati dulu! Di sini kita harus hati-hati bikin penilaian.

Mengajukan sertifikat halal MUI itu tidak terlalu mudah bagi pedagang kecil dan pemilik  industri rumah tangga. Kecuali pas ada program gratisan, orang harus mengeluarkan uang yang lumayan jumlahnya. Belum lagi prosesnya yang cukup rumit. Jadi, mengurus sertifikat halal MUI itu di luar kemampuan rakyat kecil. Apakah kemudian semuanya harus dihukumi tidak halal? Tentu tidak  demikian. Produk apapun yang dihasilkan saudara muslim harus dianggap halal. Baru boleh dianggap tidak halal ketika ditemukan bukti atau informasi meyakinkan nahwa dalam produknya ada unsur tidak halal.

Seperti kejadian di Jogja belum lama ini. Ada informasi bahwa Soto Marzuki mengandung unsur babi. Informasi itu sampai ke Kantor Kementrian Agama Kabupaten Bantul. Petugas pun menindaklanjuti dengan melakukan penelitian laboratorium untuk melihat apakah betul dalam soto Marzuki yang laris itu ada unsur babi. Hasilnya ternyat positif sang pemilik warung soto mencampurkan daging babi pada sotonya.

Kejadian di atas mengajarkan kepada kita umat islam agar di satu sisi kita mempercayai produk muslim lain, tapi di sisi lain juga harus tetap hati-hati. “Hidup kok mempersulit diri sendiri,” begitu mungkin pertanyaan sebagian orang.

Di sinilah sebenarnya kita harus mempertemukan hukum agama dengan fakta sosial di masyaarakat. Isslam telah memberikan aturan, memberikan rambu-rambu, dan menyediakan jalan keluar ketika terjadi kesulitan. Di sinilah semua teori harus dijumbuhkan dengan fakta. Di sinilah terkadang fiqih berlaku tidak sama ketika menemukan tantangan berbeda.

Mari kita ingat lagi bahwa pada dasarnya semua makanan itu halal, sampai ada larangan untuk memakannya.  Tidak apa prinsip ini kita ulang-ulang agar hafal dan menjadi prinsip kita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,

” اعلم أن الأصل في جميع الأعيان الموجودة على اختلاف أصنافها وتباين أوصافها : أن تكون حلالا مطلقا للآدميين ، وأن تكون طاهرة لا يحرم عليهم ملابستها ومباشرتها ، ومماستها ، وهذه كلمة جامعة ، ومقالة عامة

Hukum asal segala sesuatu dilihat dari perbedaan tingkatan dan sifat, semuanya adalah halal bagi manusia. Juga hukum asalnya adalah suci, tidak haram untuk dikenakan, diminum, atau disentuh. Ini kaedah yang mencakup berbagai macam masalah dan kaedahnya sifatnya umum. (Majmu’ Al-Fatawa, 21: 535)

Kebanyakan ulama pun berpandangan bahwa hukum asal segala sesuatu itu boleh. Para ulama mengatakan dalam kaedah fikih,

الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ

“Hukum asal segala sesuatu adalah boleh.”

Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 29)

Begitu pula firman Allah Ta’ala,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS. Al-A’raf: 32)

Dalam hal bisnis pun demikian, para ulama katakan,

الأَصْلُ فِي المعَامَلاَتِ وَالعَادَاتِ الحِّلُّ وَالإِبَاحَةُ إِلاَّ مَا قَامَ الدَّلِيْلُ عَلَى خِلاَفِهِ

“Hukum asal dari muamalah (transaksi) dan hukum asal untuk adat adalah halal dan boleh kecuali ada dalil yang menyelisihinya.”

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan dalam bait sya’ir kaedah fikihnya,

الأَصْلُ فِي مِيَاهِنَا الطَّهَارَةُ وَالأَرْضِ وَالثِّيَابِ وَالحِجَارَةِ

“Hukum asal air adalah suci, begitu pula tanah, baju dan bebatuan.”

Maka setiap hal yang berkaitan dengan urusan dunia (non-ibadah), boleh dan halal kita lakukan. Termasuk di sini dalam hal pakaian, asalnya halal. Sama halnya dengan zat kosmetik. Kecuali ada kandungan yang haram dalam pakaian seperti mengandung sutera atau ada zat haram dalam kosmetik, barulah haram.

Dalil dan pendapat ulama di atas tentu membuat kita lebih tenang. Tidak perlu terlalu risau dengan simbol halal pada kemasan sebuah produk. Di negara dengan mayoritas penduduknya muslim ini, kita harus khurnudzon bahwa apapun yang dirpoduksi saudara muslim kita adalah halal. Produk tadi baru menjadi syubhat atau malah haram, saat ada informasi tertentu, bukti yang bisa dilihat, atau ada kesaksian bahwa ada yang menyebabkan produk tadi menjadi tidak halal.

Kasus Soto Marzuki di Jogja sebagai contohnya. Adanya informasi dari masyarakat bahwa pemilik warung soto itu mencampurkan babi, ditindaklanjuti oleh Kementrian Agama Kabupaten Bantul dan terbukti ditemukan campuran daging babi pada soto tersebut.

Pada penyembelihan sapi, ada informasi cukup valid bahwa di beberapa RPH di Jogja, sapi ditusuk jantungnya sesaat setelah disembelih. Sapi masih hidup  dan perbuatan itu dilakukan agar sapi cepat mati. Ini terlarang. Selain tidak melakukan penyembelihan dengan tidak “ihsan” juga menyebabkan daging sapi tidak thoyib. Gerakan sapi bnerkelojotan sesaat setelah disembelih adalah proses mentuntaskan darah agar maksimal keluar. Ketika jantung ditusuk proses itu hilang dan sebagian besar darah tertahan dalam daging. Daging jadi kotor dan tidak sehat.

Hindari juga daging gelonggongan. Daging gelonggongan diperoleh dari cara menyiapkan sapi saat akan disembelih. Sapi itu dipaksa minum air sebanyak-banyaknya sampai setengah pingsan. Setelah itu baru disembelih. Konon, tujuannya agar bobot daging sapi meningkat karena kandungan air yang tinggi. Proses ini jelas menyiksa sapi. konon cara memberikan air adalah dengan menggelontorkan sejumlah besar air melalui selang langsung ke tenggorokan sapi! Tentu saja proses ini juga mengfhasilkan kualitas daging yang buruk dan tidak sehat. Tanda-tandanya, biasanya dagingnya berwarna biru.

Pada daging ayam, saat Anda akan membeli di pasar, lihatlah lehernya. Penyembelihan yang baik akan meninggalkan luka melebar di ujung leher. Di pasar, sering ditemukan leher ayam hanya berlubang kecil saja. Ini berarti urat-urat penting di leher tidak terputus. Jika demikian, carilah ayam di pedagang yang lain saja. Beritahukan kepada penjual, mengapa Anda tidak jadi membeli agar dia belajar dan mengerti soal halal haram.

Bsgaimana dengan makanan olahan? Bakso, sosis, nugget, dan makanan sejenisnya memang sering meragukan kehalalannya. Banyak produsen nakal yang mencampurkan daging babi dalam adonannya. Atau dengan campuran bumbu-bumbunya yang syubhat. Disarankan Anda membeli dari penjual langganan yang Anda sudah percaya betul. Gak usah pindah-pindah. Jangan lupa untuk selalu membicarakan kehalalan ini saat bertransaksi. Setidaknya akan tertanam pada dia bagaimana pentingnya jaminan kehalalan. Jika tidak ada langganan yang Anda kenal, tentu lebih aman Anda beli makanan olahan bersertifikat halal.

Bukankah cukup bijaksana cara di atas? Kita tetap mendahulukan berprasangka baik kepada saudara muslim, pada saat yang sama kita tetap berhati-hati dengan memperhatikan tanda-tanda tertentu jika ada keraguan. Jangan sampai kita bikin hukum baru bahwa makanan atau barang yang lain baru halal ketika memiliki sertifikat halal. Padahal, Allah melarang manusia untuk mengharamkan apapun yang Allah SWT menghalalkannya.

Lalu apa manfaat sertifikat hlal? Apakah tidak hanya mempersulit birokrasi saja?

Tentu saja tidak demikian. Lembaga-lembaga pemberi sertifikat halal di seluruh dunia sangat penting keberadaannya. Barang-barang konsumsi  yang beredar di seluruh dunia saat ini kebanyakan adalah prioduk pabrikan. Baik yang diproduksi di dalam negri maupun yang diimpor dari luar negri umumnya bersifat anonim. Tidak diketahui lagi siapa pemilik pabrik itu. Orang hanya tahu mereknya. Komposisi bahan yang dipakai dengan demikian juga menjadi sulit dikontrol. Apalagi kota semua tahu bahwa turunan produk babi digunakan secara massiv di berbagai produk konsumsi baik itu makanan, pakaian, alay kosmetik, obat-obatan, dan minuman. Demikian juga alkohol dengan berbagai variasinya.

Jika produk itu dibikin di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, keraguan terhadapnya akan semakin tinggi. Kebiasaan mereka makan babi dan minum khamr jelas akan mempengaruhi pandangan mereka terhadap pola konsumsi manusia. Bagi mereka, yang penting bersih dan sehat.

Rumah makan, restoran, dan kafe juga rawan soal kehalalan. Sekarang ini restoran-restoran besar yang digemari anak-anak muda dan tempat utama kuliner keluarga adalah bagian dari jaringan nasional dan internasional. Kita tidak pernah tahu bagaimana bahan makanan di sana disiapkan. Apalagi restoran-restoran di tempat-tempat wisata di seluruh dunia. Di Bali, di Manado, di Singapura, di Belanda, dan di banyak tempat dengan mayoritas penduduk non muslim, sertifikat halal dari lembaga terpercaya sangat dibutuhkan. Bahkan di Pulau Lombok yang disebut sebagai pulau seribu masjid, kita tetap membutuhkan sertifikat halal untuk tidak was-was ketika makan di restoran besar yang tidak ada identitas keislamannya.

Bisa disimpulkan, sertifikat halal yang dikeluarkan lembaga resmi terakreditasi sangat penting untuk produk massal anonim, restoran dan tempat makan lain yang besar dan juga anonim, produk obat-obatan, kosmetik, dan alat-alat tertentu. Umat Islam sangat membutuhkan jaminan kehalalan yang bisa dipercaya.

Dari sisi pengusaha, jaminan halal memberikan keuntungan tersendiri. Pertama, pengusaha memang berkewajiban memberikan jaminan kehalalan bagi konsumen muslim. Di Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan banyak negara non muslim lain, kesadaran pengusaha soal sertifikat halal ini malah lebih baik dari di negri kita. Penduduk muslim dunia jumlahnya terus meningkat, Kebutuhan konsumsi muslimin ini tentu juga terus naik. Demi uang besar, para pengusaha ini malah sangat proaktif mengupayakan rekomendasi halal agar produk mereka bisa masuk dan diterima muslimin di seluruh dunia. Kedua, konsumen muslim membutuhkan ketenangan. Sertifikat halal dari lembaga terakreditasi sangat membantu.

Mari kita simpulkan lebih tegas lagi. Sertifikat halal bukanlah penanda bahwa hanya barang yang bersertifikat halal yang pasti halal. Sertifikat halal adalah penjamin bagi muslim agar tenang melaksanakan gaya hidup halalnya. Namun demikian, produk yang dihasilkan seorang muslim pada dasarnya pasti hala, sampai terbukti bahwa ada unsur tidak halal dalam produk itu. Sertfikat halal sangat berguna terutama untuk produk pabrikan, anonim, atau diproduksi bukan oleh muslim.

Jadi? Apakah Semua Yang Tidak bersertifikat Halal MUI Haram? Yang penting, kita dorong makin banyak produsen apa saja untuk mendaftarkan produknya ke MUI agar kita semua lebih tenang. Semoga yang demikian juga mengakibatkan usaha semua muslim jadi lebih maju dan barokah.

 

M Abafez

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories