Pasti Halal Dot Com

Betulkah Memilih Pemimpin Non Muslim Itu Haram?

Proses pengangkatan pemimpin dalam sejarah Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan cara yang tidak sama. Abu Bakar Asshidiq RA diangkat dengan baiat yang diawali Umar RA. Proses ini sangat cepat karena adanya ancaman perpecahan di antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin tentang siapakah yang paling berhak menjadi pemimpin setelah Rosululloh SAW wafat.

Pengangkatan Umar Bin Khatab RA sebagai khalifah melalui wasiat. Namun demikian, sebelum wasiat ditulis, Abubakar RA sudah melakukan beberapa kali musyawarah dengan sejumlah sahabat nabi paling utama, meskipun saat itu dalam keadaan sakit. Penunjukan melalui surat wasiat ini tidak menimbulkan gejolak apapun. Hampir semua sahabat tahu persis bahwa Umar RA adalah orang sangat dekat dengan Nabi dan merupakan salah satu sahabat paling mulia.

Saat Umar RA mau mencari penggantinya, dia membentuk satu tim yang berisi beberapa sahabat yang paling baik dan paling senior. Ali RA, Utsman RA, Talhah, dan beberapa sahabat lain. Saat membentuk tim ini Umar memberikan banyak pertimbangan. Salah satunya, dia tidak mau anaknya diangkat menjadi khalifah. Dalam musyawarah Utsman disepakati oleh mayoritas anggota tim untuk menjadi khalifah selanjutnya.

Ali RA diangkat menjadi khalifah setelah Utsman RA terbunuh syahid. Tidak terlalu lama setelah Utsman RA wafat, sejumlah sahabat nabai Talhah RA dan Zubeir Bin Awwam, mendatangi rumah Ali RA untuk membaiatnya menjadi pemimpin pengganti Utsman RA. Selanjutnya, hampir seluruh ahlul Madinah pun berbaiat kepada kepada pemuda yang paling awal masuk islam ini.

Perang, pergolakan politik, kedamaian, ketulusan, selanjutnya mewarnai perjalanan sejarah kepemimpinan islam selama berabad-abad. Baik dan buruk secara normal bergantian menyertai perjalanan sejarah ini. Tercatat ada banyak dinasti yang berkuasa. Mulai dari Bani Um,ayah di Damaskus pasca kepemimpinan Ali RA. Bani Abas di Iraq, Umawi di Spanyol, dan terakhir ada kekhalifahan Utsmaniyah di Turki sampai masa perang dunia pertama.

Tercatat Bani Umayyah adalah dinasti pertama yang memberlakukan sistem kerajaan yang pergantian kekuasaannya berdasarkan keturunan, Muawiyah menunjuk Yazid, anak kandungnya, sebagai penggantinya memimpin dinasti ini. Tradisi ini kemudian diikuti oleh dinasti lain seperti Bani Abasiyah dan Turki Utsmani. Dalam kekuasaan yang panjang ini tentu saja tidak semuanya berjalan mulus. Di samping muncul banyak khalifah yang memimpin dengan sangat baik kekhalifahan, tidak sedikit juga khalifah yang memimpin dengan buruk. Tercatat beberapa khalifah memenjarakan ulama yang sebenarnya sangat baik pada zaman itu.

Bagaimanakah mestinya sistem suksesi dalam ajaran agama Islam? Adakah keharusan untuk menegakkan kekhalifahan? Bagaimana dengan sistem kerajaan yang banyak dipraktekkan dalam sejarah politik islam? Perdebatan dalam persoalan ini cukup banyak dalam khasanah kajian politik islam. Berbagai pikiran itu sudah ada sejak zaman sahabat hingga hari ini. Namun demikian, ada beberapa prinsip kepemimpinan islam yang dalam hal ini hampir tidak ada perbedaan pendapat yang berarti. Kalu toh ada, itu merupakan pendapat pengkaji zaman ini yang sudah terpengaruh oleh kultur Barat yang mendominasi hampir semua ruang di antara bumi dan langit. Salah satu prinsip itu adalah diharamkannya memilih atau mengangkat pemimpin dari kalangan non Muslijm.

Sebelum membahas dasar hukum agama atas larang memilih orang kafir sebagai pemimpin, terlebih dulu akan dijawab beberapa hal yang sering dipertanyakan umat.

    1. Bagaimana hukumnya tinggal atau menjadi warga yang di tempat itu dipimpin non muslim? Islam tidak melarang muslim tinggal di negara atau wilayah yang mayoritas penduduknya non muslim. Sejak zaman awal islam sudah banyak pendakwah islam yang tinggal di wilayah seperti itu. Dia hanya secara pandai memilih mana yang harus diikuti, mana yang harus ditinggalkan. Dan yang seperti ini tidak akan menimbulkan konflik.

 

    1. Bagaimana jika dalam pemilihan pemimpin dimenangkan oleh non muslim? Jika mayoritas penduduk di situ muslim maka harus diupayakan ppemilihan pemimpin dimenangkan oleh muslim dengan cara yang baik. Jika kemudian muslim kalah, muslim harus menunggu pemilihan berikutnya untuk menang. Harus ada evaluasi, mengapa sampai kalah? Apaakah dakwah dilakukan dengan baik? Selama kepemimpinan non muslim itu, umat islam harus melakukan pendekatan kepada pemimpin agar kepentingan umat terjaga.

 

    1. Apakah melaksanakan hukum ini tidak bermakna “mendirikan hukum sendiri ” dalam sistem hukum nasional? Tidak demikian. Hukum islam itu ada yang penegakannya harus oleh negara. Misalkan soal qishos, hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum, rajam bagi pelaku zina. Yang demikian itu tidak boleh dilakukan oleh muslim yang hidup di negara yang tidak menerapkan hukum islam seperti di Indonesia. Kalau dilakukan berarti pelakunya telah melanggar hukum positif yang berlaku. Sedangkan melaksanakan hukum untuk tidak memilih non muslim sebagai pemimpin, itu adalah hak politik masing-masing pribadi. Bahkan seorang muslim boleh (dalam pandangan syariah harus) mengajak sesama muslim untuk memilih calon yang seagama. Ini sebanding dengan ketika sholat dan mengajak sesama muslim untuk sholat. Akhlaqnya, jangan menyerang dan menjelekkan calon yang beragama lain.

 

  1. Apakah memilih dan mengajak orang lain hanya memilih calon muslim tidak melanggar konstitusi dan Pancasila? Tentu saja tidak, Orang boleh memilih pemimpinannya berdasarkan apa saja selama dilakukan dengan tidak melanggar undang-undang. Bahak dn negara Barat pun hal seperti ini masih berlaku. Sepanjang sejarah Amerika Serikat mislnya, baru sekali ada presiden beragama katholik. Lainnya semua protestan.

Apakah dasar hukum larangan memilih dan mengangkat pemimpin non muslim?

Banyak sekali ayat-ayat qur’an yang memberikan arahan bagaimanakah memilih dan mengangkat pemimpin itu. Semuanya begitu jelas dan gamblang. Bukan ayat-ayat yang harus dicari takwilnya karena menunjuk sesuatu yang tidak jelas.

Dalam qur’an pemimpin lebih sering disebut dengan kata “auliya”. Tidak ada perdebatan berarti dari makna kata itu dalm konteks kepemimpinan. Asal maknanya memang “dekat”. Kemudian menjadi “penolong” “wali”. Dan dalam konteks ayat-ayat yang dikutip di bawah ini secara kontekstual dngan bunyi keseluruhan ayat berarti pemimpin. Bagi orang yang belajar bahasa Arab, perubahan makna demikian sudah lazim.

Di bawah ini hanya beberapa ayat yang kami sajikan dan hanya ayat dan terjemahannya saja. Untuk lebih ditail, bias kemudian membaca sejumlah tafsir, baik yang klasik maupun yang ditulis di zaman kita ini. Anda bisa membaca tafsir Jalalain, Tafsir Al Qurtubi, Fi Zilalil Qur’an. Ibnu Katsir, atau apa saja. Semua sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Anda juga bisa membaca tafsir asli tulisan Buya Hamka (Al Azhar) atau tulisan Dr. Quraish Shihab (Al Misbah).

Anda juga bisa membaca tulisan sejumlah ulama atau ustadz bidang tafsir yang sudah membahasnya secara ditail. Hati-hati, jangan belajar kepada yang bukan ahlinya. Sekarang banyak “mufasir” yang gak ngerti bahasa Arab dan bahkan tidak pandai membaca Al Qur’an. Saya pastikan kalau melakukan yang terakhir ini  Anda akan tersesat.

Inilah ayat-ayat yang mengharuskan muslim memilih pemimpin muslim dan diharamkan memilih calom pemimpin non muslim.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. (QS. An-Nur: 55).

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. (QS. Ali-Imron: 28).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Seorang pemimpin disyaratkan harus seorang muslim, karena merekalah pemegang amanat dan keadilan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٥٧) وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ (٥٨

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman(QS: Al Maidah 57).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ آبَاءكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاء إَنِ اسْتَحَبُّواْ الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara- saudaramu   menjadi   WALI   (pemimpin/pelindung)   jika   mereka   lebih   mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka WALI, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS: At-Taubah 23)

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- nya. dan dimasukan-nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa  puas terhadap (limpahan rahmat)-nya. mereka itulah golongan allah. ketahuilah, bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS:  Al Mujaadalah 22)

 

Sedikit tentang Surat Al Maidah Ayat 51:

Sekarang ini banyak orang yang berusaha menjadi ahli tafsir. Tidak tahu bahasa Arab, tidak belajar ulumul qur’an, bahkan tidab bisa membaca qur’an merabisa menafsirkan lebih baik daripada tafsir ulama. Di atas sudah saya persilakan mencoba membaca sendiri beberapa tafsir. Di bawah ini saya hadirkan sedikit salah satu penafsiran Al Maidah 51.

Ini dikisahkan dari riwayat dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu.  Dari Sammak bin Harb, dari Iyadh,

أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد، وكان له كاتب نصراني، فرفع إليه ذلك، فعجب عمر رضي الله عنه وقال: إن هذا لحفيظ، هل أنت قارئ لنا كتابًا في المسجد جاء من الشام؟ فقال: إنه لا يستطيع أن يدخل المسجد فقال عمر: أجُنُبٌ هو؟ قال: لا بل نصراني. قال: فانتهرني وضرب فخذي، ثم قال: أخرجوه” ثم قرأ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ

Umar memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari untuk melaporkan semua yang diterima dan yang diserahkan dalam satu catatan. Abu Musa memiliki juru tulis beragama nasrani. Kemudian catatan itu diserahkan. Dan Umar radhiyallahu ‘anhu terheran, beliau mengatakan, “Ini sangat rinci.” Lalu beliau meminta,

“Apakah nanti di masjid, kamu bisa membacakan untuk kami, surat yang datang dari Syam?”

Abu Musa mengatakan, “Dia tidak boleh masuk masjid?”

Tanya Umar, “Mengapa? Apakah dia junub?”

“Bukan, dia nasrani.” Jawab Abu Musa.

Umar langsung membentakku dan memukul pahaku, dan mengatakan, “Keluarkan dia.”

kemudian beliau membaca firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim..” (QS. Al-Maidah: 51)

Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu katsir dalam tafsirnya (3/132).

Umar melarang, jangan sampai orang kafir menjadi pejabat yang memiliki posisi di pemerintahan. Sekalipun dia hanya seorang akuntan negara.

 

Semoga bermanfaat

M Abafez

 

 

Related Post

3 Responses

    • Aba Hanif says:

      Betul Pak, terimakasih koreksinya. Ini soal kecermatan mengetik. Sudah dibetulkan, yang benar 1988.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories