Pasti Halal Dot Com

Indonesia Dibanjiri Tenaga Kerja Cina: Fakta Atau Hoaks?

Informasi mengenai membanjirnya tenaga kerja asal Cina menjadi salah satu issue panas dan polemik tak berkesudahan di media massa maupun media sosial. Dua pihak yang bertentangan pendapat sama-sama ngotot bahwa pendapatnya benar. Polemik makin panas karena, entah kebetulan atau tidak, pihak yang berlawanan ini juga sering tidak sependapat di banyak soal. Tudingan bahwa issue itu diangkat berkait dengan “dendam” pilpres pun dimunculkan. Bagaimana yang sebenarnya?

Di sini saya tidak pada posisi mengatakan pihak ini benar dan pihak itu salah. Tajug kita kali ini hanya akan menganalisis dari sisi fakta tentang bagaimana informasi dan polemik ini disajikan di medsos.

Bebas Visa

Indonesia memberlakukan kebijakan bebas visa bagi pengunjung asal Cina. Kebijakan yang juga diterapkan untuk negara-negara ASEAN dan beberapa negara lain. Hal yang tidak istimewa. Semua negara memberlakukan politik ini untuk tujuan meraih kunjungan wisata, bisnis, pendidikan dan sebagainya dalam jumlah yang besar.. Menurut informasi Dirjen Bea Cukai, hingga november, kunjungan orang Cina ke Indonesia mencapai 1,3 juta orang. Ini merupakan jumlah yang banyak jika mereka hanya melakukan kunjungan wisata. Sayang imigrasi tidak menjelaskan berapa banyak dari 1,3 juta warga Cina ini yang menetap dalam waktu pendek dan berapa banyak yang menetap lama. Jika ada data berapa banyak yang keluar setiap bulannya, tentu kita bisa menghitung berapa banyak yang masih tinggal dalam setahun ini.

Pernyataan ini tidak diamini oleh pejabat yang lain. Beberapa di antara pejabat malah mengeluarkan angka yang masing-masing tidak sama. Dalam soal tenaga kerja Cina, bahkan Menteri Luhut mengeluarkan angka berbeda dari presiden.

Warga Cina di Proyek Resmi Pemerintah

Sejak digalakkan peningkatan kerjasama ekonomi Indonesia – Cina, banyak proyek pemerintah yang dimenangkan dan dibiayai oleh Cina, swasta maupun pemerintah. Di proyek-proyek seperti ini, menurut beberapa informasi terpercaya, tenaga kerjanya dominan warga Cina. Di lingkungan PLN misalnya, ada beberapa proyek yang tenaga kerjanya dominan Cina. Sebut saja di pembanguanan pembangkit ftp 1 10.000 MW . Proyek PLN yangpambangkitnya nantinya dikelola Indonesia Power, di Suralaya 8, Pelabuhan Ratu, Lontar, Labuhan, Pangkalan Susu, dan Adipala, Cilacap, dominasi pekerja Cina ini sangat nampak. Dari mereka, menurut perkiraan, yang bisa berbahasa Inggris hanya di bawah 5 persen. Jadi, tenaga kasarlah yang diimpor dari Cina.

Beberapa proyek jalan raya di Sumatera juga diketahui  digarap dominan oleh tenaga kerja dari Cina sampai tenaga kasarnya. Sekali waktu datanglah ke barak-barak pekerja pembangunan di proyek pengecoran jalan Tol Kualanamu Medan- Pabarakan dengan main kontraktor dari China.  Di barak-barak atau base camp pekerja banyak sekali ditemukan pekerja warga negara Cina.

Banyaknya pekerja Cina di proyek-proyek yang digarap dengan kerjasdama Cina, mungkin memang paketnya menyatu. Kerjasama hanya bisa dijalankan jika pemerintah Indonesia menerima syarat bahwa pekerja yang akan menggarap adalah WN Cina. Indonesia disisakan 30% saja utk memenuhi perintah UU.

Kesaksian Beberapa Pandangan Mata

Said Didu, mantan Sekretaris Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), beberapa kali menyatakan pernah membersamai dalam 1 pesawat dengan ratusan pendatang Cina dalam satu pesawat. Dua pertiga penumpang pesawat adalah WN Cina. Mau ke mana mereka? Said Didu menyatakan sulit percaya bahwa mereka ini wisatawan. Apa lagi tujuannya bukan daerah kunjungan wisata.

Beberapa waktu lalu juga ditangkap beberapa orang Cina yang bertani” di daerah Bogor. Mereka menanam cabe dan belakangan diketahui bahwa cabe itu mengandung virus tanaman yang sangat berbahaya. Entah bagaimana sekarang kasusu ini ditangani pemerintah. Yang jelas tidak ada lagi pemberitaan soal itu.

Deretan kasus dijumpainya tanaga kerja cina tidak resmi di berbagai wilayah Indonesia ini bisa panjang sekali daftarnya. Pernah juga diberitakan dijumpai sekelonpok pekerja Cina yang menaikkan bendera negara mereka dan akhirnya diturunkan aparat.

 

Kumpulan kasus, persitiwa, dan cerita soal pekerja asal Cina ini bak mozaik yang tersebar samar. Jika dikumpulkan menjadi satu, mungkin akan nampak fenomena sebenarnya. Mungkin betul bahwa dari segi jumlah, tenaga kerja Cina belumlah sebesar informasi yang dilansir beberapa pihak masyarakat. Angka 10 juta masih terlalu tinggi, saya setuju. Angka, 1,3 pengunjung Cina di tahun 2016 saya yakin juga tidak semuanya pekerja. Ketakutan yang berlebihan akan dominasi Cina dalam ketenagakerjaan di Indonesia tak perlu juga berlebihan. Tak ada gunanya terlalu membesar-besarkan angka.

Pertanyaan saya sederhana: Mengapa seakan-akan pemerintah membiarkan issue ini berkembang liar tanpa penanganan yang baik? Pemerintah sangat punya kemampuan untuk mengecek informasi yang dilengkapi data meskipun hanya data sederhana. Ini penting untuk membuktikan bahwa berita maraknya tenaga kerja Cina di negri kita hanyalah isapan jempol. Sebaliknya, jika di lapangan ternyata memang banyak ditemukan TKA asal Cina maka akan segera bisa diambil tindakan. Membiarkan semuanya  berjalan alami tanpa manajemen yang baik hanya akan menuburkan friksi dalam masyarakat. Lebih berbahaya lagi jika suatu saat diketahui bahwa semuanya memang benar, dan kita sudah terlambat sekali saat itu.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories