Pasti Halal Dot Com

Roti! Ya, Roti!

Tulisan ini secara khusus ditujukan untuk muslim pembuat roti. Tapi jika pihak yang tidak masuk katagori itu mau membaca, tentu dipersilakan.

Jika Anda konsumen muslim, Anda jadi lebih “melek” soal rumitnya kehalalan roti. Jika Anda  non muslim pembuat roti, Anda bisa lebih bijak “memasak” roti Anda agar pasti halal bagi muslim yang merupakan konsumen terbanyaki produk Anda. Jika Anda pemilik bahan dan bumbu roti, Anda akan lebih mempertimbangkan sediaan dagangan Anda. Sangat baik jika produk yang Anda jual akan terhidang secara halal di meja makan konsumen muslim setelah menjadi roti

Roti memang bukan makanan pokok di Indonesia. Meskipun demikian, makanan dari terigu ini telah menjadi bagian penting dari gaya hidup negri ini. Roti yang dimaksud di sini adalah roti tawar, segala jenis roti manis, cake (kue/bolu?) dan beberapa jenis roti lokal dengan bermacam sebutan. Masyarakat Indonesia mengkonsumsi roti dalam banyak momen. Di hari biasa sudah banyak orang yang mengganti sarapan paginya dengan berbagai jenis roti. Saat sore hari terkadang sebagian masyarakat juga makan roti sebagai teman minum teh atau kopi. Hidangan pesta, hadiah untuk teman/saudara, dan khajatan tertentu juga banyak menggunakan roti berbagai jenis. Singkat kata, roti sudah menjadi bagian penting dari hidup kita.

Bagi muslim yang menghendaki pola konsumsinya terjaga dari barang haram, roti menjadi titik rawan. Memang, jika mau sederhana, cukup merlihat apakah produk roti  yang dibeli sudah berlabel halal MUI atau belum. Tinggalkan jika belum, santap dengan santai jika sudah. “mengapa diperumit?” Begitu barangkali pertanyaan dasarnya. Ok. Ini tidak salah. Bahkan, roti yang tidak berlabel halal, jika Anda mengenal pembuatnya, dan meyakini dia merupakan orang yang selalu menjaga syariah, kita dapat dengan santai menyantapnya bersama keluarga.

Lalu titik rawannya di mana? Di bawah nanti akan kita bahas. Ada persoalan alat kerja, kehati-hatian, ketidak tahuan pekerja dan pemilik usaha, dan palingt serem, ketersediaan bahan dan bumbu roti halal yang masih langka! Setidaknya, dengan mengetahui “sisik melik” dunia perotian ini kita bisa lebih teliti memilih produk untuk diri kita maupun untuk keluarga.Bukankah kita semua tahu bahwa semua yang kita konsumsi wajib halal?

Faktor Bahan dan Bumbu Roti

Malam kemarin (03/01/17) saya mengantar istri membeli beberapa bumbu roti di sebuah toko bahan roti terbesar di Yogyakarta. Mungkin juga terlengkap. Toko ini menjual mulai dari alat pembuat roti, kemasan, bahan roti, dan ratusan atau mungkin ribuan item bumbu roti.

Yang istimewa, toko bahan roti ini sudah berbentuk pasar swalayan. Tidak seperti di toko bahan roti yang lain, yang saat mau membeli produk kita hanya berdiri di depan etalase, menyebut nama barang, dan pelayan akan mengambilkan barang yang kita sebut, di toko ini kita bisa berkeliling dulu, melihat-lihat, dan mengambil barang yang kita ingini ke kasir. Di sini kita juga bisa sekadar melakukan window shoping.

Selama berkeliling itu saya melihat begitu banyaknya jenis bumbu roti. Berbagai macam cokelat, mentega dan margarin, pengembang, tepung, toping dan lain sebagainya. Beberapa produk dikemas rapi model fabrikan dengan kemasan menarik. Ada yang produk Indonesia dan banyak yang impor. Saya ambil dan saya lihat beberpa produk. Baik yang lokal maupun impor, keduanya ada yang mencantumkan label halal MUI, ada yang berlabel halal tidak resmi, dan ada yang “polosan” tanpa label halal. Kemudian saya lihat juga banyak produk yang nampak sebagai produk industri rumahan. Umumnya tanpa label halal.

Yang juga cukup banyak terdapat di toko itu adalah produk yang dikemas sendiri oleh toko itu. Prosuk curah yang dipecah-pecah dari paket besar. Tentu saja yang seperti ini kebanyakan tanpa merek. Keju, mentega, margarin, tepung, pengembang, dan lain-lain yang curah ini sangat melimpah. “Harga lebih murah dan kualitasnya gak kalah sama yang bermerek,” kata seorang pembeli yang kebetulan melihat-lihat bersama saya. Konon, pembuat roti lebih memilih produk curah ini karena lebih menguntungkan.

Halakah roti yang dibuat dari bahan dan bumbu yang tidak jelas asalnya itu? Kita tidak bisa menghakimi bahwa produk itu pasti haram. Secara pasti baru bisa diketahui setelah dilakukan uji lab. Tapi, yang demikian itu pastilah syubhat. Saya cenderung berpendapat lebih dekat ke haram, mengingat bahwa produk bahan dan bumbu roti 90 persen lebih masih impor. Dan, diketahui pada umumnya ada unsur turunan babi di dalamnya.

Faktor Alat Kerja

Kue Terang Bulan atau juga disebut Martabat Manis merupakan camilan favorit keluarga kami sejak lama. Sering sekali dulu, beberapa tahun lalu, membeli kue tersebut di pedagang langganan. Beberapa bulan lau, saat masih di luar rumah, dikontak istri agar membeli kue paling enak di duni ini. Seingat saya kebiasaan ini sebenar sudah lama berhenti. Entah karena apa. Sesuai instruksi istri sore itu saya mampir ke padagang langganan yang ternyata sudah digantikan anaknya. Laris. Pembeli perempuan yang kebanyakan berjilbab ngantree sampai puluhan. Ya, memang harus sabar di temapt yang sangat laris ini.

Agak kaget saat mendekati pegawai yang sedang menguaskan margarin di kue ini. Baru saat itu saya memperhatikan ternyata kuas yang dipakai adalah kuas yang disinyalir dibuat dari bulu babi. Saya tanya pegawai itu soal kuas yang dipakainya. Dia bilang dari dulu ya seperti tiu. Pedagang lain juga melakukan hal yang sama. Saya pulang. Tidak jadi beli, Beberapa hari berikutnya selama beberapa hari saya bikin survey kecil-kecilan. Memang betul, hampir semua pedagang menggunakan kuas yang sama.

Survey dilanjtkan ke beberapa pedagang pukis dan beberapa jenis kue yang dimasak di tempat yang mengguianakan bantuan kuas. Hasilnya menakjubkan: Semua memakai kuas (cat) yang jika dibakar beraroma rambut terbakar!

Faktor Ketidaktahuan

Apakah mereka sengaja melakukan itu? Tidak tentunya. Mereka melakukan itu karena ketidak tahuan mereka. Mereka umumnya muslim. Jika tahu bahwa kuas yang dipakainya adalah bulu babi tentu dia tidak akan menggunakannya.

Di sinilah kita, siapapun, perlu selalu memperhatikan dan mengingatkan yang demikian. Belilah produk mereka setelah mengganti alat kerjanya. Bila perlu, belilah satu dua kuar sintetik dan berikan kepada mereka dengasn penjelasan yang baik.

Faktor keteledoran Pekerja

Bisa jadi pemilik usaha roti sudah menyadari pentingnya memakai alat dan bahan roti yang pasti halal. Tapi sering juga karyawan berfikir beda. Kuas bulu asli, bagaimanapun, lebih nyaman dipakai ketimbang yang sinteti. Dengan alasan itu kadang pekerja tetap menggunakan kuas bulu babi saat sang majikan tidak mengawasi.

Saat karyawan disuruh belanja juga menjadi faktor munculnya ketidak halalan. Untuk alasan selisih harga atau alasan lainnya, karyawan juga bisa bertindak tanpa sepengetahuan pemilik.

Faktor Ketidakpedulian

Pernah nonton siaranTV tentang penelusuran usaha makanan yang pembuatnya menggunakan bangkai ata barang sisa yang sudah tidak sehat? Ini adalah potret ketidak pedulian pedagang terhadap barang dagangannya. Soal kesehatan, dan mungkin kehalalan disepelekan.

Soal kehalalan kita yakini bahwa hanya orang yang peduli halal haram buat dirinya yang memastikan produknya halal. Seorang non muslim, misalnya, apakah akan peduli untuk menjada produk dagangannya harus halal? Mungkin ada yang demikian. Tapi jumlahnya pasti tidak banyak.

 

Apakah kita sebaiknya tidak makan roti? Tentu saja tidak. Tapi mempertimbangkan semua penjelasan di atas, kehati-hatian harus kita pasang lebih kuat. Bahan dan bumbu roti halal yang tersedia di pasaran kurang dari 50%. Salah sedikit, kita sudah akan menjadi pemakan barang haram.

Paling baik jika kita mau menjadikan diri kita sebagai bagian dari gerakan mengajak semua pihak hanya mengkonsumsi dan memproduksi barang halal. Di manapun, kapanpun. Ayo gelorakan gaya hidup halal.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories