Pasti Halal Dot Com

Mungkinkah Menjadikan Wisata Halal Sebagai Unggulan Utama Wisata Nusantara?

Menjadikan Wisata Halal Sebagai Unggulan Utama belum menjadi pilihan utama pebisnis pariwisata dan pemerintah Indonesia. Jika tidak cepat ditangani, negri kita akan banyak kehilangan pemasukan dari membanjirnya arus wisatawan dari negri-negri muslim di seluruh dunia.

 

Nusa Tenggara Barat (NTB) telah membuktikan, mengundang wisatawan ke propinsi ini tidak harus dengan menyediakan semua kemauan gaya hidup global. Gubernur yang membawahi Pulau Lombok ini telah memproklamirkan bahwa propinsinya menjadi tujuan wisata halal utama internasional.

Hasilnya? Tahun 2015 NTB dinobatkan sebagai tempat tujuan wisata halal terbaik dunia dalam beberapa kriteria di ajang internasinal di Dubai! Di tingkat nasional, tahun ini NTB juga menyabet paling banyak penghargaan halal tourism bersama Sumatra Barat dan Aceh.

Tentu saja penghargaan-penghargaan itu bukan tujuan akhir. Itu hanya sarana untuk terus mengembangkan pariwisata halal sehingga makin menjadi tujuan utama wisata halal dunia.

Potensi Wisata Halal Sangat Besar

Pertumbuhan bisnis halal berkembang sangat pesat di seluruh dunia. Bloomberg mencatat, sejak tahun 2010, pertumbuhan kebutuhan makanan halal di Amerika Serikat misalnya, mencapai angka 33 persen per tahun. Tidak heran jika target $20 milyar pada bisnis ini di AS pada tahun 2015 bisa dicapai.

Pertumbuhan kebutuhan halal ini disadari oleh semua negara. Memperhatikan bahwa sejak memberlakukan bebas visa, kunjungan wisatawan terbesar ke Jepang datang dari negara-negara muslim, negri ini pun berusaha keras menggenjot pengembangan diri sebagai “negri ramah Islam”. Hotel dan restoran diusahakan memiliki sertifikasi halal. Di berbagai lokasi publik dengan mudah ditemukan petunjuk tempat sholat atau bahkan tempat sholat itu sendiri. Japan Air Line yang melayani penerbangan dari negri-negri muslim pun menawarkan fasilitas halal pada hidangannya.

Tidak ketinggalan, negara-negara seperti Korea, Vietnam, Thailand, dan lain-lain berlomba menjadi destinasi wisata ramah islam. Sejumlah pengamat pariwisata internasional memprediksi bahwa trend membanjirnya wisatawan dari negri-negri muslim masih akan terus meningkat beberapa tahun ke depan. Perkembangan ini seiring dengan pertumbuhan kelas menengah ekonomi di banyak negri muslim yang meningkat tajam.

Menjadikan Wisata Halal Sebagai Unggulan Utama

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Bicara “seharusnya” mestinya kita berada di depan sendiri dalam pengembangan bisnis wisata halal. Kekayaan alam kita mulai dari Gunung, Dataran Tinggi, Peninggalan Kuno, Pantai, Laut dan Bawah laut, Hutan…apa yang kita tidak punya? Indonesia juga merupakan negara dengan pemeluk islam terbesar di dunia. Dua hal ini saja sudah merupakan modal besar yang tidak dipunyai negara lain.

Realitasnya, Indonesia belum menjadi negri yang sepenuhnya ramah islam dalam hal pariwisata. Sebut saja hotel bersertifikat halal. Berapa banyak? Beberapa kali menginap di hotel di Jakarta, Jogja, Medan, dam kota lain, saya belum pernah menemukan resto merfeka bersertifikat halal! Tidak pernah juga ada tawaran layanan berkait dengan ibadah yang bagi umat islam (sholat) adalah penting dan rutin. Paling banter kita akan menemukan petunjuk arah qiblat. Lain tidak!

Di lokasi wisata seperti pantai, goa, atau daerah sejuk, sulit menemukan warung atau rumah makan bersertifikat halal. Jika alasannya karena rumah makan yang ada dikelola warga masyarakat, bukankah pemerintah bisa memfasilitasi semua itu?

Cerita di atas menunjukkan bahwa kita belum terlalu siap menjadi destinasi utama wisata halal dunia. Masih banyak PR yang harus diselesdaikan baik oleh pemerintah maupun pelaku bisnis.

Memang, Indonesia memenangkan 12 katagori penghargaan dari 16 katagori yang disediakan di ajang World Halal Tourism Awards 2016  di Abu Dhabi (7/12/2016) . Kementrian Pariwisata boleh berbangga tentang itu. Tapi semua katagori yang menang itu ada di Sumatra Barat, NTB, dan Aceh. Sisanya adalah maskapi nasional kita dan 2 obyek di Bali dan Bandung.

Dilihat rangking Indonesia di OIC (Organisation of Islamic Cooperation) atau  Organisasi Kerja Sama Islam, Indonesia cuma menduduki rangking ke  6 jauh di bawah Malaysia sebagai negara destinasi wisata halal dunia.

Pimpinan Daerah Merupakan Kunci Utama

Mengapa NTB, Aceh, dan Sumatra Barat selelu menyapu bersih penghargaan sebagai destinasi wisata halal nasional dan internasional? Banyak faktor tentu penyebabnya. Faktor utama tentu karena ada upaya nyata dan kerja keras menuju ke sana.

Tiga (3) propinsi itu dikenal memiliki penduiduk mayoritas muslim dan pada umumnya taat beragama. Akibatnya, sendi-sendi keislaman, seperti soal halal-haram, menjadi panting dan hidup di masyarakat. Miras, sex bebas, dan makanan non halal sangat terbata dan tidak terang-terang dijual di wilayah-wilayah ini. Modal ini mempermudah mewujudkan Halal Tourism atau wisat halal.

Pemerintah, dalam hal ini gubernur sebagai pemimpin tertinggi di propinsinya, menyadari pentingnya penegakan gaya hidup halal bagi rakyatnya. Maka, mereka memerlukan merancang lingkungan di manapun yang ramah gaya hidup halal. Pada saat bersamaan, gubernur dan timnya secara cerdas melihat peluang bisnis di sektor pariwisata halal ini sangat besar. Maka jadilah jejaring positif antara pelaku bisnis, pemerintah, dan masyarakat.

Mungkinkah hal serupa terjadi di wilayah lain di tanah air tercinta ini? Tergantung siapa kepala daerahnya, baik gubernur ataupun bupati/walikotanya. Jika sense tentang kehalalan yang menyatu dengan sense bisnis dan kepekaan sebagai birokrat tidak ada, maka mewujudkan wisata halal paling banter hanya akan menjadi jargon. Sosok Irwan Prayitno, Gubenur Sumatra Barat, dan Zainul Majdi  Gubernur NTB sangat menentukan keberhasilan 2 wilayah ini menjadi destinasi wisata halal terpenting di Indonesia.

Ubah Pola Pikir

Siapakah wisatawan manca negara yang berkunjung ke Indonesia? Secara umm, orang akan menjawab “para bule”. Kemudian jepang, Cina, dan orang hitam. Seperti apa ciri pokonya? Perempuannya berpakaian minim, suka nongkrong di kafe sambil dengerin musik dan minum minuman beralkohol, dan kadang beciuman di jalan.

Secara sederhana cara berpikir di atas tidak salah. Wisatawan manca yang datang ke sini, sejak lama, adalah orang-orang barat dan yang sedikit banyak berbudaya barat. Bukan hanya hapal, sebagian masyarakt kita malah sudah meniru gaya hidup itu secara parsial.

Karena itulah pula, ketika di tahun 2015 masjid-masjid di Mergangsan, Kota Yogyakarta “memprotes” keberadaan Kampung Prawirotaman, Mergangsan, Jogja yang gaduh dengan suara musik hingga larut, banyak dijajakan minuman keras secara bebas, dan banyak perempuan berpakaian seronok berkeliaran di sepanjang jalan kampung itu, ditanggapi dingin oleh pemerintah daerah. “Itu kan kampung internasional,” katanya. “Jadi, semua fasilitas yang ada (termasuk yang haram) adalah untuk menarik kunjungan wisman,”. Begitu!

Jika pola pikir semacam ini dikembangkan, maka, makin membanjir wisatawan asing ke Indonesia, harus makin banyak fasilitas semacam itu untuk mereka.

Di awal tulisan ini sudah kita perlihatkan bahwa Indonesia memiliki terlalu banyak wisata alam yang bisa ditawarkan tanpa alkohol, perempuan, dan sex bebas. Terlalu banyak juga atraksi budaya yang menarik bagi wisatawan.

Pemerintah dan pelaku bisnis wisata juga bisa menambah atau mengubah alamat promosi wisata ke negara-negara non barat. Kenyataan bahwa negara non muslim pun menawarkan wisata halal menunjukkan bahwa arus wisatawan muslim saat ini sangat besar. Banyak kreatifitas yang bisa dijual berkait dengan wisata halal ini jika ada kemauan….

M Abafez

dalam

Menjadikan Wisata Halal Sebagai Unggulan Utama

Menjadikan Wisata Halal Sebagai Unggulan Utama

Menjadikan Wisata Halal Sebagai Unggulan Utama

 

 

 

Related Post

2 Responses

  1. Tedi Tedjomurti says:

    Artikel2nya menarik, bisa jadi panduan utama bagi mereka yang membutuhkan informasi banyak hal tentang kehalalan. Selamat.

    Reply
    • Aba Hanif says:

      Terimakasih. Silakan menulis kepada kami jika ada masukan.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories